Selasa, 16 Oktober 2012


37. Perencanaan Usaha

          Usaha yang saya rencanakan adalah usaha dalam bidang produksi makanan. Adapun produk yang saya buat ialah makanan camilan berupa “keripik tempe iblis”. Alasan saya memproduksi camilan tersebut karena sekarang ini banyak  permintaan konsumen pasar yang menginginkan adanya inovasi terhadap makanan camilan yang sudah ada sebelumnya. Untuk itu saya berinovasi dengan menambahkan rasa pedas pada keripik tempe ini. Saya menamakan produk tersebut dengan nama “keripik tempe iblis” adalah karena inovasi baru berupa rasa pedas serta agar para pelaggan lebih penasaran sehingga berminat untuk membeli produk yang saya buat. Apalagi sekarang juga banyak bermunculan berbagai macam aneka camilan yang menambahkan rasa pedas dalam produksinya seperti contoh keripik singkong pedas, keripik kentang pedas, dsb namun dalam pasar masih jarang saya temui inovasi rasa pedas dalam keripik tempe. Karena alasan tersebut saya membuat keripik tempe iblis.
Dalam perencanaan usaha ini, rincian kegiatan-kegiatan yang saya lakukan diantaranya adalah :
1. Pengamatan pasar
Pengamatan pasar ini menjadi salah satu aspek terpenting, bisa dibilang paling utama sebelum kita melakukan perencanaan usaha. Pengamatan pasar sejatinya berfungsi untuk mengetahui seperti apa keadaan pasar dan barang apa yang sedang diminati serta yang paling banyak dicari oleh konsumen. Pengamatan pasar harus dilakukan secara jeli agar tidak terjadi kesalahan persepsi. Pengamatan pasar saya lakukan disekitar daerah Moyudan yaitu di pasar-pasar tradisional. Dalam pengamatan pasar yang saya lakukan memperoleh hasil bahwa para masyarakat/konsumen banyak yang menyukai makanan kecil berupa camilan. Namun dalam kenyataannya mereka sedikit merasa bosan dengan camilan yang hanya begitu-begitu saja. Mereka membutuhkan suatu makanan camilan yang berinovasi baru.

2. Penentuan usaha
Setelah selesai melakukan pengamatan pasar, hal selanjutnya yang mesti dilakukan adalah menentukan usaha. Dalam pengamatan pasar yang sebelumnya sudah dilakukan pasti memperoleh hasil tentang apa yang sedang diminati dan dibutuhkan oleh para konsumen. Sesuai dari pengamatan diatas maka saya menentukan untuk membuat sebuah usaha makanan camilan yang mempunyai inovasi rasa baru yaitu rasa pedas. Inovasi tersebut saya aplikasikan pada keripik tempe. Kenapa saya memilih keripik tempe karena menurut pengamatan pasar, banyak konsumen yang menyukai keripik tempe dan makanan camilan tersebut dapat dijangkau serta disukai berbagai kalangan mulai dari anak-anak sampai pada mereka yang sudah dewasa. 

3. Mempersiapkan modal
Modal dalam usaha produksi camilan ini tidaklah terlalu besar. Dikatakan demikian karena karena sebenarnya kegiatan produksi keripik tempe dapat menggunakan peralatan dapur sederhana yang biasa dipekai oleh kebanyakan ibu rumah tangga untuk memasak. Saya menententukan modal sebesar Rp. 6.120.000,- adapun rinciannya ada dalam penghitungan BEP (Break Event Point).

4. Mempersiapkan tempat usaha
Tempat usaha ini saya tentukan di rumah saya sendiri yang beralamat di Moyudan Sleman Yogyakarta. Saya memilih rumah sendiri karena adanya pertimbangan bahwa lebih efisien dan hemat selain itu saya juga dapat mengerjakan kegiatan produksi dengan santai karenan bertempat di rumah sendiri. Rumah saya akan dirubah seperti halnya sebuat pabrik/industri rumah tangga kelas kecil. Dalam hal ini, rumah juga saya jadikan sebagai tempat pemasaran produk dengan memajang keripik tempe iblis di etalase depan rumah. Hal tersebut saya pilih karena rumah saya berada dalam tempat yang strategis yaitu di pinggir jalan raya sehingga banyak masyarakat yang lalu lalang didepan rumah. 

5. Kegiatan produksi 
Kegiatan produksi ini dimulai dengan beberapa langkah, adapun tahapan langkahnya adalah:
a. Membeli bahan baru berupa tempe, tepung terigu, bumbu dapur, bubuk cabe serta minyak goreng
b. Menyiapkan peralatan seperti kompor, wajar, serok-solet, wadah besar, baskom
c. Setelah semua bahan baku terkumpul barulah membuat bumbu dan mengiris tempe secara tipis-tipis kemudian tempe tersebut di campur dengan bumbu setelah itu digoreng sampai krispi.
d. Selesai digoreng, keripik tempe setengah jadi tersebut ditiriskan sabil diberi bubuk cabe dan diaduk secara perlahan agar semua dapat tercampur.
e. Hal selanjutnya adalah finishing dengan pengepakan kedalam bungkus-bungkus plastik.
f. Hal terakhir dalam proses produksi adalah pemasaran produk dan pendistribusian produk kepada konsumen.
Kegiatan produksi saya lakukan setiap seminggu sekali jadi tidak setiap hari saya melakukan kegiatan produksi. Hal tersebut saya lakukan karena mengingat waktu saya yang sebagian besar masih untuk kulih dan produksi keripik tempe iblis masih dalam skala kecil.

6. Promosi 
Setelah melakukan kegiatan produksi, hal yang saya lakukan adalah kegiatan promosi. Promosi sangat dibutuhkan bagi keberlangsungan kegiatan usaha apalagi sebuah usaha baru. Adapun cara promosi sederhana yang saya lakukan adalah dengan membuat pamflet yang saya bagi-bagikan kepada masyarakat dan saya tempel di tempat-tempat ramai. Pamflet yang saya buat cukup menarik sehingga diharapkan setiap mereka yang membaca pamflet akan tertarik untuk mencoba membeli produk keripik tempe iblis ini. Contoh Pamflet ada di bagian belakang. Selain itu, saya juga menyediakan keripik tempe tester untuk dicoba oleh masyarakat sehingga dengan mencoba produk saya mereka ingin membeli keripik tempe iblis. Kemudian apabila ada event seperti pameran produk makanan akan saya ikitu sebagai rangkaian dari kegiatan promosi saya. Dalam setiap pameran biasanya pengunjungnya cukup banyak sehingga sangat baik untuk mengenalkan produk yang saya buat.

7. Pekerja 
Dalam usaha produksi keripik tempe iblis ini saya mengerjakan semua rangkaian usahanya sendiri. Saya mengambil langkah tersebut karena memproduksi keripim tempe iblis cukup mudah dan tidak perlu banyak pekerja selain itu saya baru memproduksi dalam partai kecil. Mungkin jika usaha produksi keripik tempe iblis ini sudah berkembang dan banyak permintaan saya akan merekrut pekerja tambahan untuk membantu dalam rangka proses produksi.

8. Menentukan pemasaran/konsumen
Untuk pemasaran hasil produksi saya akan memasarkannya di warung-warung terdekat dan saya pajang di etalase rumah saya yang dibuat seperti outlet. Warung-warung terdekat saya pilih sebagai tempat pemasaran karena banyak konsumen yang sering berbelanja ke warung. Diharapkan mereka yang berbelanja di warung melihat produk keripik tempe iblis milik saya mereka menjadi tertarik dan membelinya. Diharapkan keripik tempe iblis ini dapat disukai oleh semua kalangan dari anak-anak sampai dewasa. 


9. Proses distribusi
Proses pendistribusian saya lakukan dengan mengantarkan kepada konsumen ataupun warung-warung untuk dititipkan serta memajangnya di etalase rumah. Pendistribusian akan saya lakukan sendiri dengan mengggunakan alat transportasi sepeda motor. Adapun saya melakukan pendistribusian produk keripik tempe iblis setiap seminggu sekali. Jadi apabila sudah mencapai seminggu maka saya akan mendistribusikan produk yang baru.

Penghitungan BEP (break Event Point)
Biaya tetap
Penyusutan kompor Rp. 100.000,-
Penyusutan kendaraan Rp. 5.000.000,-
Tenaga Rp. 350.000,-
Penyusutan wadah (baskom, dsb) Rp. 50.000,-
______________ +
Rp. 6.000.000,-

Biaya variabel
Tempe Rp. 30.000,-
Tepung terigu Rp. 15.000,-
Gas Rp. 15.000,-
Bubuk cabe Rp. 20.000,-
Minyak goreng Rp. 20.000,-
Bumbu dapur(garam, merica,dsb) Rp. 10.000,-
Plastik pembungkus Rp. 10.000,-
______________ +
Rp. 120.000,-


BEP =  6.000.000
     (4.500 x 100) – 120.000
  =  6.000.000
      450.000 – 120.000
  = 18,18 unit

BEP dalam 1 tahun = 18 x 365 = 6.570 unit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar