Rabu, 08 Mei 2013

Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash-Sidiq


            Pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting bagi kelompok masyarakat, berbangsa dan bernegara. Suatu komunitas masyarakat, bangsa dan negara tidak akan maju, aman dan terarah jika tidak adanya seorang pemimpin. Pemimpin menjadi kunci keberhasilan dalam suatu komunitas masyarakat, pemimpin yang mampu memberi rasa aman, tentram, mampu mewujudkan keinginan rakyatnya, itulah yang dianggap sebagai pemimpin yang sukses.
Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang dicintai oleh yang dipimpinnya, sehingga pikirannya selalu didukung, perintahnya selalu diikuti dan rakyat membelanya tanpa diminta terlebih dahulu. Figur kepemimpinan yang mendekati penjelasan tersebut adalah kepemimpinan Rasulullah saw beserta para sahabatnya (Khulafaur Rasyidin). Abu Bakar terpilih menjadi kalifah untuk mengganti kepemimpinan setelah Rasulullah saw merupakan anugrah tersendiri, dan semacam ini merupakan keistimewaan yang diberikan Allah kepadanya. Pada dasarnya sahabat Rasulullah saw merupakan orang akan mewarisi dakwah Islamiyah/ risalah bagi seluruh umat manusia, sekaligus menjadi pemimpin bagi dirinya dengan keteladanan yang mereka unggulkan dan keistiqamahan di dalam menjalankan syari’at Allah swt dan Rasul-Nya, baik melalui kitabullah maupun sunnah Rasulullah.
Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana kiprah kepemimpinan pada masa khalifahan Abu Bakar selama menjadi pemimpin, problematika yang dihadapi sekaligus kemajuan yang telah dicapai dalam memperjuangkan dan memperluas daerah kekuasaan Islam, sehingga Islam bisa jaya ketika itu
  1. II.    BIOGRAFI ABU BAKAR
      Abu Bakar merupakan sahabat terdekat Nabi saw, beliau yang menemani Nabi berhijrah dari Makkah ke Madinah, selain itu beliau juga merupakan mertua dari Nabi saw, karena Nabi menikah dengan putri beliau yaitu Siti ‘Aisyah. Abu Bakar mendapatkan gelar ash Shiddiq, artinya orang yang membenarkan dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw.
Nama Abu Bakar yang sebenarnya adalah Abdul Ka’bah (hamba ka’bah), yang kemudian diganti oleh Rasulullah saw menjadi Abdullah (hamba Allah). Abu Bakar ash Siddiq atau Abdullah bin Abi Quhafah (Usman) bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr al Quraisy at Tamimi. Nasabnya bertemu dengan Nabi saw dikakeknya yang keenam yaitu Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Dan ibunya, Ummul Khair sebenarnya bernama Salma binti Sakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim.[1]
Abu Bakar Ash Siddiq tumbuh besar di Mekah dan tidak pernah keluar dari Mekah kecuali untuk tujuan dagang dan bisnis. Beliau memiliki harta kekayaan yang sangat banyak dan kepribadian yang sangat menarik, memiliki kebaikan yang sangat banyak, dan sering melakukan perbuatan-perbuatan yang terpuji. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Dughunnah : “Sesungguhnya engkau selalu menyambung tali kasih dan keluarga, bicaramu selalu benar dan kau menanggung banyak kesulitan, engkau bantu orang-orang yang menderita dan engkau menghormati tamu.”
An-Nawawi berkata: “Abu Bakar termasuk tokoh Quraisy dimasa Jahiliyah, orang yang selalu dimintai nasehat dan pertimbangannya, sangat dicintai dikalangan mereka, sangat mengetahui kode etik dikalangan mereka. Tatkala Islam datang, Abu Bakar  mengedepankan Islam atas yang lain dan beliau masuk Islam dengan sempurna.”
Wanita-wanita yang pernah mendampinginya, sebagai berikut :
  1. Abu Bakar pernah menikahi Qutailah binti Abdul Uzza bin Abdullah bin As’ad pada masa jahiliyyah, dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah dan Asma’.
  2. Beliau juga menikah dengan Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Zuhal bin Dahman dari Kinanah, dari pernikahan tersebut lahirlah Abdurrahman dan ‘Aisyah.
  3. Beliau juga menikah dengan Asma’ binti Umais bin ma’add bin Taim al Khatts’amiyyah dan sebelumnya Asma’ diperistri oleh Ja’far bin Abi Thalib.
  4. Beliau juga menikah dengan Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Zuhair dari Bani al Haris bin al Khazraj. Dari pernikahan tersebut lahirlah Ummu Khultsum.
Menurut Fachrudin, Abu Bakar terpilih untuk memimpin kaum Muslimin setelah Rasulullah saw disebabkan oleh beberapa hal, adalah sebagai berikut :
  1. Beliau dekat dengan Nabi saw, baik dalam hal ilmu maupun persahabatan
  2. Sahabat yang dipercaya Nabi saw
c. Dipercaya oleh rakyat, sehingga mendapatkan gelar ash Sidiq
d. Seorang yang dermawan
e. Sahabat yang diperintah oleh Nabi saw menjadi imam shalat jama’ah
f. Termasuk orang yang pertama kali masuk Islam. (Fachrudin ,9 1985 : 19-20).
Abu Bakar ash Siddiq meninggal pada tanggal 23 Agustus 634 / 8 Jumadil Awwal 13 H di Madinah pada usia 63 tahun. Ketika itu beliau ditimpa sakit, setelah 15 hari lamanya menderita penyakit itu, kemudian beliau wafat. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma’ binti Umais yaitu istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah saw. Umar menshalati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar ar Raudhah. Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman bin Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Thalhah bin Ubaidillah.[2]

  1. III.  METODE KEPEMIMPINAN
Khulafaur Rasyidin merupakan pemimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad saw wafat, yaitu pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, dimana sistem pemerintahan yang diterapkan adalah pemerintahan yang demokratis.
Nabi Muhammad saw tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat Islam setelah beliau wafat. Beliau nampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah tidak lama setelah beliau wafat, belum lagi jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di balai kota Bani Sa’idah tepatnya di Madinah, mereka bermusyawarah menentukan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak baik Muhajirin maupun Anshar sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Namun dengan semangat ukhuwah Islamiyah yang tinggi, akhirnya Abu Bakar yang terpilih.
Semangat keagamaan Abu Bakar mendapat penghargaan yang tinggi dari umat Islam, sehingga masing-masing pihak menerima dan membaiatnya. Sebagai pemimpin umat Islam setelah Rasul, maka Abu Bakar disebut Khalifah Rasulullah (Pengganti Rasul). Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah Nabi wafat untuk menggantikan beliau melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan.[3]
Setelah selesai orang membaiat, Abu Bakar pun berpidato sebagai sambutan atas kepercayaan orang banyak kepada dirinya, penting dan ringkas : “Wahai manusia, sekarang aku telah menjabat pekerjaan kami ini, tetapi bukanlah aku orang yang lebih baik dari pada kamu. Jika aku lelah berlaku baik dalam jabatanku, sokonglah aku, tetapi kalau aku berlaku salah, tegakkanlah aku kembali, kejujuran adalah suatu amanat, kedustaan adalah suatu khianat. Orang yang kuat di antara kamu, pada sisiku hanyalah lemah, sehingga hak si lemah aku tarik dari padanya. Orang yang lemah di sisimu, pada sisiku kuat, sebab akan ku ambilkan dari pada si kuat akan haknya, Insyaallah. Janganlah kamu suka menghentikan jihad itu, yang tidak akan ditimpa kehinaan. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi kalau aku melanggar perintah-Nya, tak usahlah kamu taat dan ikut aku lagi. Berdirilah sembahyang, semoga rahmat Allah meliputi kamu.”
Pemerintahan Abu Bakar adalah pemerintahan pertama yang mengobarkan peperangan dan memepersenjatai bala tentara untuk membela hak-hak kaum kafir yang lemah. Dalam hal ini Abu Bakar sangat di kenal dengan sebuah ungkapannya sekaligus yang menjadi komitmennya : “Demi Allah jika mereka tidak mau membayar zakat dari harta yang mampu mereka bayar , padahal (dahulu) mereka membayarkannya kepada Rasulullah SAW. Maka niscaya aku akan memerangi mereka.
Abu Bakar yang memulai penakhlukan dan perluasan Islam pada masanya, Islam mampu menakhlukan Persia dan Romawi, bahkan beliau meninggal pada saat perang yarmuk melawan imperium Romawi. Dalam setiap peperangan yang diperintahkan beliau adalah selalu menanamkan nilai-nilai etika yang berdasar al Qur’an dan as sunnah. Beliau mewasiatkan pada kaum Muslimin : “Janganlah sekali-kali membunuh pendeta biarlah mereka melaksanakan peribadatan sesuai keyakinan mereka.[4]
Abu Bakar menjadi khalifah hanya selama dua tahun, pada tahun 634 M beliau meninggal dunia. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah, mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad saw dengan sendirinya batal setelah Nabi wafat. Karena itu mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, maka Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid bin Walid adalah jenderal yang banyak berjasa dalam Perang Riddah ini.
Kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Rasulullah saw, bersifat sentral : kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, khalifah juga melaksanakan hukum. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad saw, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.
Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim kekuatan ke luar Arabia. Khalid ibn Walid dikirim ke Iraq dan dapat menguasai al Hirah di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi di bawah pimpinan empat jenderal yaitu Abu Ubaidah, Amr ibnu ‘Ash, Yazid ibnu Abi Sufyan dan Syurahbil. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat tentara ini, Khalid ibnu Walid diperintahkan meninggalkan Irak, dan melalui gurun pasir yang jarang dijalani, ia sampai ke Syria.
Abu Bakar meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam sedang mengancam Palestina, Irak, dan kerajaan Hirah. beliau diganti oleh “tangan kanan”nya, Umar bin Khattab. Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijaksanaan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar. Umar menyebut dirinya Khalifah Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu’minin (Komandan orang-orang yang beriman).
Abu Bakar ash Sidiq juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis al Quran. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah dalam perang Ridda, banyak penghafal al Qur’an yang ikut tewas dalam pertempuran. Abu Bakar ash Sidiq lantas meminta Umar bin Khattab untuk mengumpulkan koleksi dari al Qur’an. Setelah lengkap koleksi ini, yang dikumpulkan dari para penghafal al Quran dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya, oleh sebuah tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit, kemudian disimpan oleh Hafsah, anak dari Umar bin Khattab dan juga istri dari Nabi Muhammad saw. Kemudian pada masa pemerintahan Ustman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks al Qur’an hingga yang dikenal hingga saat ini.
Kemajuan yang telah dicapai pada masa pemerintahan Abu Bakar selama kurang lebih dua tahun di dalam pengembangan Islam, antara lain :
1. Perbaikan sosial (masyarakat)
2. Perluasan dan pengembangan wilayah Islam
3. Mengumpulkan ayat-ayat al Qur’an
4. Sebagai kepala negara dan pemimpin umat Islam
5. Meningkatkan kesejahteraan umat perbaikan sosial yang dilakukan Abu Bakar, ialah usaha untuk menciptakan stabilitas wilayah Islam dengan berhasilnya mengamankan Tanah Arab dari para penyelewengan (orang  murtad, nabi palsu dan orang yang enggan membayar zakat).  Adapun usaha yang ditempuh untuk perluasan dan pengembangan wilayah Islam Abu Bakar melakukan perluasan wilayah luar jazirah Arab. Daerah yang dituju adalah Iraq dan Syria yamg berbatasan langsung dengan wilayah kekuasan Islam.
Prestasi atau keberhasilan  yang telah dilakukan Khalifah Abu Bakar ash Shidiq, sebagai berikut :
  1. Perbaikan Sosial Masyarakat
a. Memerangi kaum murtad
Setelah Rasulullah wafat, sekelompok orang Madinah menyatakan keluar dari        Islam dan melakukan pemberontakan. Kelompok inilah yang disebut Kaum     Riddah
b.   Mengatasi orang yang tidak mau membayar zakat
Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa membayar zakat hanya kepada Nabi            Muhammad, oleh karena itu setelah Nabi Muhammad wafat mereka enggan          membayar zakat.
c.    Memberantas Nabi-nabi palsu
Orang-orang yang mengaku sebagai nabi sebenarnya sudah ada semenjak Nabi Muhammad masih hidup. Namun setelah Nabi saw wafat mereka semakin berani, diantara orang-orang yang mengaku sebagai Nabi adalah :
1).  Aswad al Ansi, orang yang pertama kali mengaku sebagai nabi
2).  Musailamah al Kazzab, pada waktu terjadi Perang Yamamah yang menyebabkan banyak penghafal al Qur’an wafat
3).  Saj’ah, wanita Kristen yang mengaku sebagai nabi
4).  Thulaihah bin Khuwailid, dalam pertempuran ia kalah dan akhirnya masuk Islam.
2.   Pengumpulan Ayat-ayat al Qur’an
Dalam perang Yamamah, banyak sekali para sahabat penghafal al Qur’an yang wafat, oleh karena itu Sahabat Umar mengusulkan agar dilakukan pembukuan al Qur’an karena khawatir al Qur’an akan musnah.
Oleh karena itu Khalifah Abu Bakar memberikan tugas kepada Zaid bin Tsabit untuk menuliskannya kedalam satu mushaf dan disimpan di kediaman Abu Bakar.
3.   Perluasan wilayah Islam
a.      Perluasan ke wilayah Irak dan Persia, dipimpin oleh Khalid bin Walid
b.      Perluasan ke wilayah Syiria, dipimpin oleh Usamah bin Zaid
c.       Perluasan ke wilayah Palestina, dipimpin oleh Amr bin Ash
d.      Perluasan ke wilayah Roma, dipimpin oleh Ubaidah bin Jarrah
e.      Perluasan ke wilayah Damaskus, dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah
f.        Perluasan ke wilayah Yordania, dipimpin oleh Surahbin bin Hasanah.

IV. PENUTUP
Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat-sifatnya atau kewenangannya yang dimiliki yang sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkannya.
Rahasia utama kepemimpinan yaitu kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan hanya dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain. Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal.[5]
Gaya Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar ash Shidiq merupakan seorang khalifah penerus perjuangan Nabi yang berusaha menciptakan sebuah masyarakat yang hidup dalam zaman “Baldatun tayyibatun warabbun ghafur”. Dengan dua sifat yang menonjol yaitu, kelembutannya beliau menginsyafkan orang yang berbuat munkar dengan ketegasannya beliau mengatasi orang yang memberontak.
Ibrah dari kisah khalifah Abu Bakar ash Shidiq, sebagai berikut :
1.   Menciptakan stabilitas sosial dengan cara mengatasi orang-orang murtad dan para pemberontak.
2.   Menerima masukan dari orang lain demi kebaikan, hal ini ditunjukkan dalam usaha pembukuan al Qur’an
3.   Menyebarkan Islam dengan cara damai, karena selain dengan cara perang, penyebaran agama Islam dapat dilakukan dengan dakwah dan suri teladan yang baik.
DAFTAR PUSTAKA


  1. http:// KepemimpinanAbuBakar/MasaKepemimpinanAbuBakarAs-SiddiqBlog.htm
  2. http://www.Suara Media.com//
  3. http://KepemimpinanAbuBakar/masa-kemajuan-islamkhilafahrasyidah.html
  4. http://KepemimpinanAbuBakar/MakalahTentangKepemimpinblog.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar