Sabtu, 04 Mei 2013

Kepemimpinan Presiden Habibie



Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang biasa kita kenal sebagai BJ. Habibie merupakan presiden Indonesia dan merupakan salah satu tokoh pemimpin yang dihormati, termasuk oleh saya pribadi. Beliau lahir pada tanggal 25 Juni 1936 di Parepare Sulawesi Selatan dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo.
BJ. Habibie merupakan presiden Republik Indonesia yang ketiga dengan masa jabatan dari 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Selain sebagai seorang presiden, BJ. Habibie juga pernah menangani  berbagai jabatan seperti, Wakil Presiden Indonesia ke-7, Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia ke-1 dan juga menjabat sebagai ketua umum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) pada masa jabatannya sebagai menteri.
Pada tulisan ini, penulis akan mengemukakan bagaimana kepemimpinan Habibie sebagai seorang presiden.
Presiden Habibie merupakan lulusan tehnik mesin dari Institut Teknologi Bandung dan lulusan tehnik penerbangan spesialisasi konstruksi pesawat terbang dari RWTH Aachen, Jerman Barat. Meskipun Presiden Habibie tidak memiliki latar belakang politik, namun Habibie dapat menjelma menjadi sosok pemimpin yang cukup dikagumi. Awal pemerintahan Presiden Habibie tidaklah mudah. Beliau harus menerima kondisi Indonesia yang kacau balau pasca mundurnya Presiden Soeharto. Dengan banyaknya terjadi kerusuhan di berbagai wilayah di Republik Indonesia pada saat itu, Presiden Habibie yang merupakan seorang jenius mengambil berbagai langkah yang sangat tepat dalam menangani masalah yang muncul.

Habibie merupakan seorang pemimpin yang bersifat demokratik. Pencapaian yang dimiliki beliau diantaranya adalah pelaksanaan otonomi daerah. Dengan adanya otonomi daerah ini,  berbagi macam kerusuhan yang terjadi dapat diredam. Sejalan dengan kepemimpinannya yang demokratik tersebut, kebebasan untuk mengeluarkan pendapat dan membentuk serikat-serikat tersendiri membawa dampak positif untuk negara Indonesia. Tak hanya itu, Presiden Habibie juga membebaskan para tahanan politik yang ditangkap pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Tak hanya pada bidang politik, di bidang ekonomi pun Presiden Habibie memiliki pencapaian yang fantastis. Pada akhir masa pemerintahannya, nilai tukar rupiah terhadap dollar mencapai angka Rp. 6.500,- per US DOLLAR. Hal yang tidak dapat dilakukan oleh para presiden setelah dirinya sampai saat ini. (Penulis berharap Semoga di masa yang akan datang nilai tukar Rupiah semakin menguat bahkan melebihi nilai tukar DOLLAR. Semoga saja.)

Pemerintahan Presiden Habibie tidak semua berjalan mulus. Hal yang cukup fatal bagi dirinya  yaitu mengizinkan diadakannya referendum kdi Timor Timur untuk memilih apakah ingin tetap bergabung dengan NKRI atau memisahkan diri. Akibat dari hasil referendum tersebut, Timor Timor kini memisahkan diri dan berganti nama menjadi Timor Leste. Dengan terlepasnya Timor Timur menimbulkan banyak kontroversi di negara Republik Indonesia. Hal ini membuat pidato pertanggung jawaban Presiden Habibie ditolak oleh MPR dan membuat dirinya tidak mencalonkan diri pada pemilu berikutnya. Namun, dengan lepasnya Timor Timur ada dampak positif tersendiri yang didapat oleh Indonesia seperti bersihnya nama Indonesia dimata dunia. Hal ini karena maraknya terjadi kasus pelanggaran HAM di Timor Timur. Selain itu, Presiden Habibie mungkin memiliki pemikiran tersendiri mengenai Timor Timur.
Saat ini, Presiden Habibie merupakan penasehat kepresidenan dimulai pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Hingga akhir masa kepresidenannya, Presiden Habibie selalu mengemban tugasnya dengan baik. Kepemimpinannya yang bersifat demokratik, mampu membawa Indonesia melalui masa-masa sulit. Sang Jenius di bidang tehnik, mampu membawa perubahan yang sangat besar kepada negara. Sungguh beliau merupakan kebanggaan bangsa dan merupakan seorang presiden yang penulis hormati setelah Presiden Soekarno. Semoga di masa yang akan datang, Indonesia dapat memiliki pemimpin seperti beliau lagi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar