Sabtu, 04 Mei 2013

PERILAKU ORGANISAS DALAM MANAJEMENT PENDIDIKAN



Prolog
Kepala sekolah dan guru merupakan faktor cukup penting dalam keberhasilan manajemen pendidikan. Sebagaimana dipahami bahwa suatu organisasi akan dipengaruhi oleh perubahan perilaku anggota organisasi tersebut, maka peran individu pada kehidupan organisasi dapat mewarnai pola perilaku organisasi. Hal ini sejalan dengan pandangan  Owens (1987) bahwa terdapat hubungan sistemik antara karakteristik manusia dalam organisasi dan karakteristik organisasi itu sendiri. Lebih lanjut dalam konteks ini diperkuat oleh Luthans (1992) yang menyebutkan keterkaitan atau keterhubungan antara perilaku organisasi terhadap teori organisasi yang berada pada tataran teoritis, juga terhadap  pengembangan organisasi dan SDM (personalia) pada kawasan terapan. Oleh karena itu guru dan kepala sekolah sebagai bagian dari anggota organisasi sistem persekolahaan dalam tataran konsep manajemen pendidikan berperan cukup vital dan menentukan keberhasilan sekolah. Hampir tidak ada bantahan bahwa sekolah yang dinilai berhasil sudah barang tentu memiliki kepala sekolah dan atau guru yang kompeten dalam mengelola pembelajaran dan pendidikan (Mantja 2010).
Kompetensi non akademik (emotional competence) yang diejawantahkan dalam kecakapan soft skills seperti telah diuraikan panjang lebar pada bab-bab sebelumnya sangat diperlukan. Terlebih lagi bagi kepala sekolah dan guru juga yang merupakan motor penggerak dan pengendali proses kegiatan manajemen pendidikan baik di tataran kelas (mikro) maupun tararan makro seperti tujuan sekolah dan pendidikan. Dalam konteks ini maka karakteristik perilaku kepala sekolah dan guru hendaknya didasari penguasaan (skilled knowledge) soft skils yang dilandasai penguatan pada kecerdasan emosional (EI).
  1. Peranan Kepala Sekolah
Dewasa ini kecakapan emosional sangat dibutuhkan baik bagi kesuksesan individu maupun
organisasi. Sebagai contoh, dalam suatu studi di 42 sekolah di Inggris membuktikan bahwa
pimpinan sekolah yang menunjukkan berbagai kemampuan EI dapat meningkatkan sikap
positif para guru dan keberhasilan prestasi belajar para siswa (Goleman 2005). Pimpinan
sekolah yang efektif tidak hanya menciptakan iklim sekolah yang kondusif untuk berprestasi
tetapi juga bagi pembiasaan (attunement) aktivitas guru kearah kerjasama tim yang baik.
Kompetensi emosional pada intinya terdiri dari dua kelompok besar yakni kompetensi personal dan kompetensi sosial. Lebih lanjut, model kompetensi Goleman menguraikan EI menjadi 5 ranah atau dimensi EI. Dari kelima dimensi ini diurai menjadi 25 sub kompetensi. Tiga dimensi -Kesadaran Diri, Pengendalian Diri dan Motivasi- termasuk dalam kompetensi personal yang mengetahui dan mengelola emosi diri. Sedangkan dua dimensi lainnya Empati dan Kecakapan Sosial dinyatakan sebagai kompetensi sosial yang berupaya mengenal dan mengelola emosi orang lain.
Dalam kaitan kompetensi emosional ini paling tidak uraian Goleman tentang budak nafsu berkaitan dengan personal kompetensi. Apabila seseorang berhasil mengendalikan kecemasan, amarah dan kesedihan dengan baik, maka hal ini akan berpengaruh secara signifikan terhadap kompetensi personal orang tersebut.
Dalam konteks yang lebih umum dan populer kecakapan emosional merupakan "engine" bagi pengembangan program-program pelatihan yang bersifat soft skills (kecakapan pendukung). Kepiawaian seseorang di tempat kerja. misalnya berinteraksi dengan orang lain di ejawantahkan dalam bentuk kerjasama yang efektif dan produktif. Soft skills memungkinkan manajer secara efektif memberikan semangat, membimbing dan mendelegasikan berbagai hal kepada / terhadap orang lain.
Dengan kecakapan pendukung yang baik orang di segala tingkatan akan dapat menggunakan tugas fungsional (technical know-how) secara penuh tanpa adanya halangan yang disebabkan oleh isu hubungan antar personal yang dapat menghambat produktivitas. Dalam konteks bahasan ini kecakapan pendukung dapat dipelajari dan dikembangkan paling tidak dengan mengendalikan berbagai emosi negatif seperti amarah, kecemasan dan kesedihan. Apabila sesorang terampil dalam mengelola ketiga bentuk emosi ini, maka kesuksesannya dapat di ejahwantahkan dalam kecakapan pendukung.
B. Peranan Guru
Disamping penguasaan soft skills yang dapat ditularluaskan kepada peserta didik melalui kegiatan pembelajaran dan non pembelajaran, guru perlu menaruh perhatian pada keunikan peserta didik. Salah satu upaya agar proses pembelajaran lebih efektif, efisien dan memiliki daya tarik adalah dengan merancang dan mengembangkan strategi pembelajaran yang merupakan bagian penting dari disiplin teknologi pembelajaran. Strategi pembelajaran yang efektif, efisien dan memiliki daya tarik akan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran (Degeng 1989, Reigeluth 2005). Daya tarik pembelajaran harus mampu memotivasi siwa untuk belajar. Untuk menjadikan pembelajaran menarik peran guru sangat penting. Kepiawaian guru sangat diperlukan dalam mengelola pembelajaran secara baik yang membuat variabel motivasional siswa meningkat. Disinilah andil guru dalam menyampaikan isi matapelajaran dengan baik
Peran guru sebagai bagian dari variabel-variabel eksternal cukup berpengaruh dan penting bagi terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan dan mendidik. Guru dalam proses belajar mengajar merupakan unsur penguat motivasi siswa dalam belajar. Tindakan guru dan perhatiannya terhadap siswa memiliki dampak positif bagi bertumbuh-kembangnya minat siswa terhadap matapelajaran dan keinginanmya untuk belajar. Komponen siswa sebagai bagian tak terpisahkan dari sejumlah komponen pembelajaran lainnya merupakan unsur unik yang perlu diperhatikan oleh guru. Oleh karena itu seorang guru harus mampu mengenali perkembangan psikologis yang tengah terjadi pada diri para siswa.
Pemahaman guru terhadap keunikan kepribadian siswa ini diperlukan dalam upaya menetapkan strategi pengorganisasian, penyampaian hingga pada strategi pengelolaan kelas yang memperhatikan berbagai persoalan psikologis individual (siswa). Karakteristik siswa merupakan kajian yang tak terpisahkan dalam variabel-variabel metode pembelajaran disamping 2 kelompok lainnya yaitu (1) tujuan dan karakteristik bidang studi; (2) kendala dan karakteristik bidang studi (Degeng, 1989).
Epilog
Organisasi pendidikan baik itu persekolahan maupun perguruan tinggi selama ini kurang menaruh perhatian pada pengembangan soft skills peserta didik. Tumbuhkembang soft skills siswa/mahasiswa dilandasi pula atas kepiawaian soft skills para guru/dosen. Oleh karena itu disarankan agar para pihak pemangku kepentingan manajemen pendidikan perlu menciptakan kondisi kondusif bagi aktualisasi dan mengembangkan kecakapan softskills.
Perilaku organisasi yang berkaitan erat dengan karakteritisk anggota organisasi serta pencapaian tujuan organisasi itu sendiri. Dalam konteks persekolahaan perilaku dan kecakapan kepala sekolah/guru baik teknis & non teknis harus sinkron dan saling melengkapi.  Selama bertahun-tahun guru dan pendidik sering berkutat pada pengembangan nilai-nilai kognitif semata. Sentuhan-sentuhan potensi yang terdapat dalam teori Multiple Intellegences termasuk kecerdasan emosional dan kecakapan softskills kurang terperhatikan dengan baik dan benar. Oleh sebab itu jika sekolah-sekolah tidak segera merubah dirinya ke arah yang lebih baik, maka fungsi sekolah bisa diganti oleh lembaga atau institusi lain yang lebih responsif terhadap kebutuhan belajar masyarakat. Tujuan pendidikan pada dasarnya adalah membuat individu ingin melakukan sesuatu bukan menyuruhnya atas apa yang harus dilakukan. Menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman, suasana menyenangkan, menantang dan menggugah minat belajar peserta didik merupakan misi penting pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar