Sabtu, 04 Mei 2013

Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara

Mengulas Warisan Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara

”
(Pic Courtesy by Wikipedia)
Ki Hajar Dewantara adalah seorang cendekiawan Indonesia yang brilian, aktifis pergerakan kemerdekaan RI, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan negara kita. Jasa Ki Hajar Dewantara membawanya sebagai seorang Pahlawan Nasional dan buah peninggalan beliau yang sangat besar adalah pendirian Perguruan Taman Siswa & munculnya semboyan terkenal yang sudah menjadi legenda dalam dunia pendidikan di Indonesia. Warisan semboyan dari Ki Hajar Dewantara ini, mengandung 3 (tiga) frasa kalimat :

Ing Ngarso, Sung Tuladha (Di depan menjadi teladan) ;
Ing Madya, Mangun Karso (Di tengah ikut serta) ;
Tut Wuri, Handayani (Di belakang memberi dorongan)

Ad. 1. Ing Ngarso, Sung Tuladha mengajarkan sebagai seorang pemimpin, perlu adanya keteladanan untuk ditiru dan menjadi contoh yang benar. Keteladanan tidak berhenti terhadap waktu karena berlangsung 24 jam sehari dan 7 hari seminggu serta dilakukan bukan hanya di masyarakat, namun juga di rumah, lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan, dan lingkungan terkait lainnya. Keteladanan itu berefek kepada tutur kata, sikap, gaya bahasa tubuh dan implikasi dalam relasi pemimpin itu kepada bawahan dan orang lain.

Tidak ada manusia yang dapat dikatakan 100% sempurna di dunia ini, hanya kalau memang rekan sekalian berada dalam lingkaran pemimpin, tentu tanggung jawab yang disandang akan jauh lebih berat daripada kalau sekedar menjadi bawahan. Akhlak dan nurani memegang peran penting yang sudah diajarkan dalam agama dan kepercayaan kita masing-masing. Keteladanan tidak dapat dibuat-buat karena orang lain cepat atau lambat akan merasakan dan mengetahuinya, maka bila kita sudah menjadi teladan, secara tidak langsung rekan sekalian sebenarnya sudah menjadi seorang panutan dan pemimpin.

Ad. 2. Ing Madya, Mangun Karso menerangkan keikut sertaan kita dalam bekerja bersama-sama. Dalam suka dan duka, semua ditanggung bersama, untuk memperbaiki nasib dan meningkatkan taraf dalam ke semua hal, entah taraf kehidupan, taraf pendidikan, taraf kebersamaan dan lain sebagainya. Pemimpin yang bijak akan berada bersama dengan yang dipimpin, sama-sama melinting lengan baju dan ikut membuat tangannya kotor dan berkeringat agar ada perbaikan bersama menuju hari esok yang lebih baik.

Negara Indonesia membutuhkan karakter pemimpin yang sejati dimana para pemimpinnya bukan mementingkan masalah pencitraan akan tetapi bagaimana bekerja keras bersama dengan rakyat untuk membuat komunitas dan rakyat yang dipimpinnya mendapatkan keadilan sosial semakmur-makmurnya sesuai Sila ke 5 dari Pancasila : “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dan bukan hanya kesejahteraan sosial untuk kalangan / golongan tertentu saja. Pertanyaannya, makin bertambah banyak atau makin bertambah sedikit, type Pemimpin Indonesia yang mau bekerja keras dengan rakyat dan masih berjiwa Pancasila?

Ad. 3. Tut Wuri Handayani yang merupakan pelengkap semboyan tidak kalah pentingnya bahwa sebagai seorang pemimpin bijak, seyogyanya ketika bawahan atau rakyat yang dipimpin sedang mengalami kesusahan dan keterpurukan, pemimpin harus turun ke bawah, mengayomi serta memberikan dorongan dan mengangkat mereka yang jatuh.

Semua orang tanpa terkecuali pasti pernah mengalami kegagalan / kenyataan pahit yang bagi beberapa orang susah untuk diterima. Pemimpin bijak tidak berhenti disana hanya karena tidak mendapat sorotan perhatian, karena pemimpin yang sejati dapat menempatkan dirinya dalam berbagai posisi apapun senyampang bahwa kepemimpinannya itu adalah untuk kepentingan rakyat. Di belakang, jarang ada orang yang dapat melihat sumbangsih atau kerja keras dari kepemimpinan dibelakang layar, namun percayalah, hal yang baik suatu kali pasti akan kembali dan memberikan pahala besar buat mereka yang tidak lelah memberikan sumbangsih positif.

Semboyan Ki Hajar Dewantara yang luar biasa ini bukan hanya berlaku dalam dunia pendidikan belaka, tetapi juga dalam sektor kepemimpinan dapat diterapkan dengan tepat. Warisan berharga beliau inilah yang harus kita lestarikan di bumi Indonesia, tempat kelahiran beliau. Salam sukses selalu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar